🎰 Lagu Daerah Suku Tengger

Anakkecil pun turut menghadiri pagelaran wayang kulit dengan orang tua mereka. Sejumlah perwakilan dari Suku Tengger turut hadir. Tak lama berselang, pembawa acara membuka acara seremonial tepat pada pukul 20.20. Pembawa acara memohon para hadirin berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. MengenalKebudayaan dan Adat Istiadat Suku Bawean Dari Kabupaten Gresik Jawa Timur. Suku Bawean merupakan etnis kelompok melayu yang mendiami pulau Bawean yang terletak di laut jawa antara pulau Kalimantan dan pulau jawa. Terletak sekitar 80 mil kearah utara Surabaya. Pulau Bawean terdiri atas dua kecamatan, yaitu kecamatan Sangkapura dan Beritadaerah- Lumanjang) Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menegaskan kekayaan desa-desa di Indonesia begitu luar biasa. Salah satunya dimiliki olah Suku Tengger di Ranupani Lumajang yang memiliki adat-istiadat luhur untuk menghormati alam dan sesama meskipun dari latar belakang berbeda-beda. persembahandari Indonesia timur @yamahamusikid #harmoniquintetindonesiaku #yamahapianicarecorder StrukturBahasa Jawa Dialek Tengger. Soedjito [et al.]. 1984. xxv, 210 hlm.; 21 cm. Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan (RUU BBLNLK) yang akan segera dibahas oleh Menteri Pendidikan Nasional. Proses arbitrer dan disvergensi inilah yang lambat laun memberikan andil variasi bahasa dan pembentukan bahasa daerah (suku atau bangsa Suku Jawa, Madura, Tengger, Bawean, dan Osing Julukan: Kota Pahlawan Rumah Adat Pakaian Adat Tarian Adat di Provinsi Pulau Bali dan Nusa Tenggara senjata tradisional, lagu daerah, suku daerah dan julukan pada 34 provinsi yang ada di Indonesia merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga dan harus diusahakan agar terus dilestarikan agar Sebutkan5 suku daerah beserta asal,tarian daerah,lagu daerah,alat musik, dan rumah adatnya! - 23047190 deflano deflano 28.05.2019 Suku: Jawa, Madura, Tengger dan Osing. Tarian tradisional: Tari Remong, Tari Reog Ponorogo. Lagu Daerah: Keraban Sape, Tanduk Majeng, Rek Ayo Rek. 7 Tari Bedaya. Tari Bedaya berasal dari keraton. Tarian daerah Jawa Tengah ini dibawakan oleh 9 orang penari putri yang diibaratkan sebagai bidadari yang sedang menari. 8. Tarian Gandrung. Tarian Gandrung, tarian ini sangat populer dan dimainkan berpasangan, yang melambangkan kerukunan. 34PROVINSI di I di INDONESIA NDONESIA BESERT BESERTA P A PAKAIAN, AKAIAN, TARIAN, RUMAH ADAT, SENJATA TRADISIONAL, TARIAN, RUMAH ADAT, SENJATA TRADISIONAL, SUKU DAN BAHASA DAERAH.. Suku Jawa. Asal daerah seperti Osing, Tengger, Samin, Bawean Naga, Nagaring lainnya di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta. Secara umum suku Jawa menggunakan bahasa jawa yang merupakan penutur paling banyak di Indonesia. Untuk pakaian dari suku Jawa identik dengan beskap, kebaya, kain baik, hingga kain beludru. • Suku Bali Wargasuku Tengger yang bermukim di lereng Gunung Evakuasi warga suku Tengger yang melibatkan tim penyelamat gabungan ini untuk mengantisipasi erupsi Gunung Bromo. Beranda masakan khas Jember mirip rendang) Bumi bentuknya Hal (keadaan, peristiwa) yang ikut menyebabkan (memengaruhi) terjadinya sesuatu Kejelasan (Inggris) Orang Tidak Dikenal Ingin, mau Suku yang mendiami daerah sekitaran kawasan pegunungan Bromo Tengger Semeru Membuat barang pipih menjadi bulat Tidak ada kekurangan sedikitpun karena sudah Gambar 42fW451. Suku Tenggersuku bangsa di Indonesia / From Wikipedia, the free encyclopedia Suku Tengger atau lazim disebut Jawa Tengger IPA /tənggər/ atau juga disebut orang Tengger atau wong Brama adalah suku yang mendiami dataran tinggi sekitaran kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur, Indonesia.[1] Penduduk suku Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang.[2] Quick facts Jumlah populasi, Daerah dengan populasi signi... ▼ Suku TenggerRohaniawan Hindu Tengger pada masa Hindia BelandaJumlah populasi± jiwaDaerah dengan populasi signifikanPegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa TimurBahasaBahasa Jawa Tengger & Bahasa IndonesiaAgamaMayoritas • Hindu Jawa • Budha TenggerMinoritas • Islam Sunni • Kristen Protestan & KatolikKelompok etnik terkaitSuku Jawa Arekan, Suku Osing, Suku Madura Pendalungan dan Suku Bali Upacara Melasti Suku Tengger di Bromo. Deskripsi Sejarah dan asal daerah Suku Tengger, tradisi dan kebudayaan, bahasa dan kehidupan sosial. Suku Tengger yang berasal dari Jawa Timur ini menjadi salah satu etnis suku terkenal dengan budayanya. Penduduk suku ini masih memiliki budaya yang kental disertai dengan tradisi dan adat istiadat yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Banyak sekali masyarakat baik lokal maupun turis mancanegara yang datang berkunjung untuk melihat penduduk suku menjalankan adat istiadatnya. Simak penjelasan lainnya tentang masyarakat Tengger di bawah ini yuk! Asal Usul Suku Tengger Pada dasarnya asal usul nama suku ini tidak hanya berasal dari satu sumber saja, namun terdapat beberapa sumber yang dapat menjawabnya. Berdasarkan pengertian, terdapat 3 teori yang dapat memberikan jawaban tentang asal mula nama suku ini. 1. Tengger Bermakna Pegunungan Suku ini tinggal di daerah dataran tinggi yaitu pegunungan. Makna pegunungan disesuaikan dengan tempat tinggal masyarakat Tengger yang menetap di Gunung Bromo. 2. Tengger Bermakna Berdiam Diri Tengger artinya berdiri tegak atau berdiam diri tanpa bergerak. Tengger ini memiliki sifat berbudi pekerti luhur. Hal ini terbukti dari kehidupan yang dijalani sehari-hari yang berlangsung secara sederhana dan murni. 3. Tengger Bermakna Gabungan Nama Leluhur Suku Tengger juga berasal dari gabungan nama para leluhur suku, yaitu Rara Anteng dan Jaka Seger. Keduanya merupakan tokoh yang terkenal di zaman kerajaan sehingga dibentuklah nama suku yaitu Tengger, yang berasal dari kata Teng dan Ger. Sejarah Suku Tengger Pada abad ke-16, Raden Patah melakukan serangan ke Kerajaan Majapahit. Peperangan ini disebabkan karena adanya perseteruan saudara. Peperangan ini menyebabkan keruntuhan Majapahit waktu itu dan pemerintahan di lanjutkan oleh Demak Bintoro. Kepercayaan lama yaitu agama Buddha Hindu di tanah Jawa, mulai tergeser karena banyaknya masyarakat yang memeluk agama Islam. Karena pada masa tersebut masyarakat hidup secara berkelompok dan sangat menjunjung tinggi solidaritas sehingga tetap terjaga. Hal ini menyebabkan penduduk Majapahit yang masih menganut kepercayaan lama Hindhu Budha yang taat akhirnya pindah ke arah pegunungan Bromo dan pergi ke Pulau Bali. Keduanya menjadi suku yang berbeda, yaitu Suku Tengger dan Suku Bali. Masyarakat Majapahit yang berpindah ke daerah dataran tinggi sangat menutup diri dari dunia luar. Hal ini bertujuan agar hidup mereka bisa menjaga kepercayaan mereka tanpa pengaruh agama Islam. Setelah menetap di Bromo, muncul 2 leluhur suku ini yang bernama Rara Anteng dan Jaka Seger. Rara Anteng adalah anak dari Raja Majapahit yang tergolong kasta ksatria. Sedangkan Jaka Seger adalah anak dari tokoh agama yang tergolong kasta Brahmana dalam strata Bali. Keduanya menikah dan mengungsi ke daerah pegunungan Jawa Timur dan menjadi pemimpin untuk masyarakat Tengger. Keturunannya kemudian berkembang dan menjadi penduduk Tengger hingga saat ini. Dahulu masyarakat ini tidak mengenal dunia luar dan tetap tertutup. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Tengger mulai membuka diri dan mengizinkan orang luar masuk dan melihat adat istiadat mereka. Meski begitu, penduduk Tengger tetap memelihara warisan nenek moyang sekaligus menjalankan adat istiadat yang telah ada sejak dahulu. Kepercayaan Suku Tengger Berdasarkan agama pertama yang mereka kenal, Suku Tengger sebagian besar menjalankan ajaran Hindu. Hal ini semakin memperkuat penjelasan bahwa penduduk suku ini berasal dari Kerajaan Majapahit yang dulunya merupakan Kerajaan dengan genre Hindu. Agama Hindu-India memiliki sistem kasta dalam kehidupan sosial. Namun berdasarkan sistem pemerintahan yang Rara Anteng dan Jaka Seger lakukan, kehidupan sosial antar masyarakat sangat menjunjung jiwa persaudaraan sehingga semua sama, tanpa dibatasi kasta. Selain mempercayai agama Hindu, masyarakat Tengger juga percaya bahwa Gunung Bromo adalah tempat sakral. Mereka memiliki adat setiap 1 tahun sekali yang terdiri dari upacara adat tepat di bawah kaki Gunung Bromo sebagai ritual. Kebudayaan Suku Tengger Penduduk Tengger melestarikan adat dan istiadat warisan nenek moyang dengan baik. Penduduk tetap menjalankan tradisi yang telah dilakukan secara turun menurun. Berikut merupakan kebudayaan Suku Tengger yang wajib Anda ketahui. 1. Perayaan Hari Karo Karo adalah hari raya terbesar bagi penduduk Tengger. Hari raya ini diselenggarakan secara bersama-sama dengan hari raya nyepi. Keduanya merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tengger. Saat perayaan Karo berlangsung, masyarakat Tengger akan melakukan pawai dengan membawa hasil panen. Selain itu, mereka menggelar kesenian adat seperti tarian dan melakukan silaturahmi antar saudara. Ritual hari raya ini dipimpin oleh seorang ratu yaitu pemimpin doa dalam setiap aktivitas. Berbeda dengan sebutannya, jenis kelamin ratu ini adalah laki-laki. Biasanya masyarakat Tengger menyebutnya ratu atau dukun. 2. Yadnya Kasada Yadnya Kasada adalah upacara adat yang dilakukan satu tahun sekali dan telah menjadi tradisi yang dinanti oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Wisatawan dapat melihat prosesi secara langsung namun tidak boleh bersuara. Upacara Yadnya Kasada ini lebih dikenal dengan upacara kasodo. Upacara ini dilakukan setiap tanggal 14 setiap bulan ke sepuluh atau kasada. Upacara ini hanya dilakukan oleh masyarakat Tengger yang menganut agama Hindu. 3. Ritual Ojung Tradisi terakhir yang dilakukan oleh masyarakat Tengger adalah Ritual Ojung. Di dalamnya terdapat ritual yang berisi perkelahian satu lawan satu dengan senjata. Berbeda dengan senjata pada umumnya, senjata Ritual Ojung menggunakan rotan. Ojung adalah kesenian asli Suku Tengger yang wajib dilakukan oleh setiap laki-laki. Aktivitas yang dilakukan dalam ritual ini adalah perkelahian yang dilakukan dengan mencambuk satu sama lain dengan senjata rotan. Tidak semua pria, kandidat yang dapat mengikuti ritual ini dilakukan oleh laki-laki usia 17 sampai 50 tahun. Selain itu, ritual ini digunakan untuk meminta turunnya hujan kepada Sang Pencipta. Biasanya sebelum aktivitas ini dilakukan, hadirin dimanjakan dengan tarian daerah. Bahasa Tengger Bahasa Tengger memiliki dialek yang sangat unik dengan rumpun bahasa Jawa dan rumpun bahasa Austronesia. Keduanya merupakan turunan bahasa Kawi yang tetap menggunakan kalimat Jawa Kuno dan tetap digunakan hingga saat ini. Dalam berkomunikasi sehari-hari, Suku Tengger menggunakan bahasa Jawa kuno. Bahasa ini dipercaya sebagai dialek Kerajaan Majapahit. Bahasa ini juga digunakan untuk menulis beberapa mantra untuk upacara adat tertentu. Mata Pencaharian Masyarakat Tengger Sebagian besar masyarakat Tengger bekerja sebagai petani. Hal ini karena sumber daya alam yang ada di sekitar dataran tinggi tersebut dapat dimanfaatkan sumber daya alamnya. Sebagian besar mereka bertani kentang, jagung, tembakau, kubis dan wortel. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Tengger yang awalnya tertutup untuk dunia luar kini mulai membuka hubungan dengan masyarakat di luar suku ini. Seiring bertambahnya wisatawan pula, profesi yang diterima juga bervariasi, contohnya sebagai guide pada rombongan tertentu. Penjelasan lengkap tentang Suku Tengger di atas dapat menjadi sarana bagi Anda, untuk melanggengkan kebudayaan serta mempertahankan tradisi yang telah diwariskan nenek moyang. Suku Tengger juga biasa disebut dengan wong Brama, atau orang Bromo. Sebutan lainnya adalah wong Tengger. Suku ini menempati daerah dataran tinggi pegunungan Bromo, Semeru, Tengger yang terletak di Jawa Timur. Sebagian dari masyarakat Tengger juga tersebar dan tinggal di Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Malang. Saat ini, jumlah populasi suku Tengger mencapai 500 ribu jiwa. Asal Nama Suku TenggerSejarah Suku TenggerAgama & Kepercayaan Suku TenggerKeunikan Suku Tengger1. Perayaan Hari Karo2. Yadnya Kasada3. Ritual OjungBahasa TenggerMata Pencaharian Masyarakat TenggerSistem Kekerabatan Berkaitan dengan nama Tengger yang disematkan untuk kelompok etnis ini, setidaknya ada 3 teori yang bisa menjelaskannya, yaitu Tengger bermakna pegunungan, hal ini sangat sesuai dengan tempat tinggal mereka yang berada di dataran tinggi. Tengger memiliki arti berdiam diri tanpa gerak atau berdiri tegak. Hal ini sangat berkaitan dengan karakteristik masyarakat Tengger yang berbudi pekerti luhur. Watak ini tercermin dalam segala aspek kehidupan yang mereka jalani. Tengger berasal dari gabungan nama leluhur suku Tengger. Kedua nama tersebut adalah Rara Anteng dan Jaka Seger. Sejarah Suku Tengger Dipercaya bahwa Suku Tengger merupakan keturunan dari penduduk Kerajaan Majalahit. Pada sekitar abad ke-16, Kerajaan Majapahit mendapat serangan dari kerajaan yang dipimpin oleh Raden Patah. Pada saat itu sering terjadi peperangan dan pertentangan karena perbedaan agama. Agama Buddha dan Hindu yang lebih dulu masuk ke tanah air mulai tergeser dengan masuknya agama Islam. Di masa lalu, agar agama dapat tersebar luas terkadang digunakan cara paksaan dengan berperang. Sebab pada masa itu masyarakat masih hidup secara berkelompok dan sangat protektif terhadap kelompoknya. Musyawarah sulit dilakukan, sehingga saat terjadi serangan dari kerajaan Islam, beberapa penduduk Majapahit lari ke arah pegunungan Bromo. Ada pula yang mengungsikan diri ke Pulau Bali dan akhirnya menjadi Suku Bali yang ada saat ini. Pengungsi dari Kerajaan Majapahit yang mengungsi ke pegunungan di Jawa Timur memilih untuk menutup diri dari dunia luar. Alasan terbesarnya adalah karena mereka ingin hidup damai dengan kelompoknya, tanpa terlibat peperangan yang baru mereka lewati. Mereka akhirnya membentuk komunitas sendiri yang disebut sebagai Suku Tengger. Dari cerita di atas, muncul dua sosok leluhur Suku Tengger, yaitu Rara Anteng dan Jaka Seger. Rara Anteng adalah anak dari seorang raja Majapahit yang masuk dalam kasta Ksatria, sementara Jaka Seger adalah anak dari seorang pemuka agama yang masuk alam kasta Brahmana. Jaka Seger yang berasal dari kasta lebih tinggi menikahi Rara Anteng. Mereka berdua ikut mengungsi ke pegunungan Jawa Timur dan menjadi pemimpin bagi masyarakat Tengger. Pernikahan Rara Anteng dan Jaka Seger memberi dampak bagi kehidupan dan adat istiadat Suku Tengger. Mereka tidak mengenal kasta dalam kehidupan, semuanya menjadi satu saudara dan punya kedudukan yang sama. Keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger serta para pengikutnya kemudian berkembang menjadi etnis Tengger yang ada sekarang. Pada awalnya, kehidupan mereka sangat tertutup karena ingin melindungi diri dan kelompoknya. Masyarakat Tengger tidak tersentuh oleh dunia luar sama sekali selama bertahun-tahun. Namun seiring dengan perkembangan jaman, Suku Tengger tidak lagi terlalu menutup diri meskipun mereka tetap memegang teguh tradisi dan adat istiadat warisan nenek moyang. Agama & Kepercayaan Suku Tengger Salah satu tradisi Suku Tengger adalah ketaatan dalam menjalankan aturan atau ajaran agama Hindu. Sebagian besar orang tengger adalah pemeluk agama Hindu. Oleh sebab itu, sangat diyakini Suku Tengger merupakan keturunan langsung dari Kerajaan Majapahit yang dahulu merupakan kerajaan Hindu. Hal ini selaras dengan asal-usul kata Tengger yang berasal legenda Rara Anteng dan Jaka Seger. Bila dalam agama Hindu India ada sistem kasta dalam kehidupan sosial yang bertingkat-tingkat, lain halnya dengan agama Hindu yang dianut masyarakat Tengger. Mereka mengikuti ajaran Rara Anteng dan Jaka Seger yang mengajarkan rasa persaudaraan yang kuat, sehingga tidak ada sistem kasta pada kehidupan masyarakat Tengger. Semua adalah satu saudara dan satu keturunan. Gunung Bromo adalah tempat yang sakral bagi masyarakat Tengger. Mereka mempercayai gunung ini adalah gunung suci. Setiap 1 tahun sekali, masyarakat Tengger akan mengadakan upacara adat di bawah kaki Gunung Bromo. Tepatnya di sebuah pura yang bernama Pura Luhur Poten Bromo. Upacara tersebut kemudian akan berlanjut ke puncak Gunung Bromo. Keunikan Suku Tengger Seperti halnya suku lain yang ada di nusantara, Suku Tengger juga memiliki keunikannya berdasarkan tradisi dan kebudayaan. Beberapa keunikan Suku Tengger antara lain Wikimedia Commons 1. Perayaan Hari Karo Karo bagi masyarakat Tengger adalah hari raya paling besar. Datangnya hari ini sangat dinanti-nanti oleh masyarakat Tengger. Pada dasarnya, hari raya Karo dirayakan bersamaan dengan hari raya Nyepi. Saat hari raya Karo, masyarakat Tengger akan melakukan pawai dengan membawa hasil bumi. Kemudian ada pula pementasan kesenian adat seperti pergelaran Tari Sodoran. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan bersilaturahmi ke rumah saudara dan juga tetangga. Ritual hari raya Karo dipimpin oleh seorang ratu. Ratu dalam masyarakat Tengger mempunyai arti seorang pemimpin yang bertugas untuk memimpin doa. Seorang ratu adalah seorang laki-laki. Selain disebut sebagai ratu, Suku Tengger juga menyebutnya sebagai dukun. 2. Yadnya Kasada Yadnya Kasada adalah upacara adat yang dilakukan setiap tahun. Acara ini diikuti oleh oleh masyarakat Tengger maupun wisatawan lokal dan mancanegara. Wisatawan dapat melihat langsung jalannya upacara, asalkan tidak mengganggu dan tetap menjaga jarakserta tidak membuat keributan. Upacara Yadnya Kasada sering juga disebut upacara Kasodo. Upacara tradisional ini dilakukan setiap tanggal 14 di bulan Kasada atau bulan kesepuluh. Yadnya Kasada hanya diikuti oleh masyarakat Tengger yang beragaman Hindu. Masyarakat Tengger menganggap Gunung Beomo sebagai tempat yang suci. Pada upacara Yadnya Kasada, mereka memberikan seserahan berupa hasil panen seperti buah-buahan, sayuran dan juga hewan ternak. Seserahan ini ditata dengan cantik dan dibawa ke Gunung Bromo sebagai bentuk permintaan berkah dan keselamatan bagi Suku Tengger. 3. Ritual Ojung Ojung merupakan salah satu kesenian asli Suku Tengger. Kesenian ini berupa perkelahian satu lawan satu menggunakan senjata yang terbuat dari rotan. Mereka akan saling mencambuk satu sama lain dengan rotan tersebut. Pemenang Ojung adalah peserta yang lebih banyak mencambuk. Ojung bisa diikuti oleh pria Tengger dari usia 17 hingga 50 tahun. Selain merupakan seni pertunjukan, Ojung sekaligus menjadi ritual meminta hujan pada sang pencipta. Ojung biasanya dilakukan di saat musim kemarau. Sebelum memulai Ojung, akan ditampilkan tarian daerah terlebih dahulu, yaitu Topeng Kuna dan Rontek Singo Wulung. Bahasa Tengger Orang Tengger menggunakan bahasa Jawi Kuno untuk berkomunikasi sehari-hari. Masyarakat di sekitarnya meyakini bahasa tersebut adalah dialek yang digunakan masyarakat Kerajaan Majapahit. Untuk menulis mantra, orang Tengger menggunakan aksara Jawa Kawi. Secara linguistik, bahasa Tengger adalah rumpun bahasa Jawa dalam cabang bahasa Formosa atau Paiwanik dari rumpun bahasa Austronesia. Ada anggapan yang menyebut bahasa orang Tengger adalah turunan bahasa Kawi yang mempertahankan kalimat-kalimat Jawa Kuni yang kini tidak lagi digunakan. Mata Pencaharian Masyarakat Tengger Hingga kini, mayoritas masyarakat Tengger bekerja dan bermata pencaharian sebagai petani. Sebagian besar adalah bertani ladang dengan hasil tani meliputi jagung, kentang, tembakau, wortel, dan kubis. Selain bertani, berkembangnya pariwisata di Gunung Bromo membuat masyarakat Tengger membuka diri dan berbaur dengan masyarakat suku lain di sekitarnya. Beberapa diantara mereka bekerja sebagai pemandu wisata di Gunung Bromo. Sistem Kekerabatan Setiap desa dipimpin oleh kepala desa yang disebut petinggi, serta dibantu oleh carik atau juru tulis kantor desa. Dalam kehidupan masyarakat Tengger, sosok yang dianggap penting dalam kegiatan sosio-religi adalah dhukun. Dhukun adalah sebutan untuk pemimpin upacara menurut agama Hindu Darma sekaligus pemimpin adat. Dhukun dibantu oleh dua orang yang disebut wong sepuh dan legen. Tugas wong sepuh adalah mengurus dan mengelola upacara adat kematian, serta menyediakan semua sesaji. Sedangkan tugas legen ialah mengurus upacara perkawinan dan perlengkapannya. Sistem kekerabatan kelompok masyarakat Tengger menganur sistem bilateral. Meski keluarga inti lebih menonjol dalam kehidupan sehari-hari, namun dalam urusan sosial maka kekerabatan bilateral lebih diutamakan. Sistem pewarisan sama seperti tradisi Jawa pada umumnya, yaitu melalui ungkapan sepikul segendongan. Sepikul untuk anak laki-laki dan segendongan untuk anak perempuan. Artinya adalah anak laki-laki maupun perempuan sama banyak mendapat sumbangan. Dalam kehidupan sosial masyarakat, suku tengger tidak memberlakukan perbedaan status. 20200905

lagu daerah suku tengger